Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan istilah pondok pesantren. Ya, tempat orang belajar ilmu agama khususnya. Disebut pondok karena orang yang belajar statusnya mukim. Orangnya disebut santri. Saat pertama mondok, biasanya santri diuji dengan ujian yang hampir semua santri merasakannya. Ujian itu ialah merasa tidak punya teman, tidak betah, jauh dari orang tua makannya kurang enak dan lain sebagainya. Demikian dengan santri yang sudah agak lama mondok juga diuji. Diuji dengan malas belajar, butuh hiburan, rindu orang tua, berselisih dengan teman dan lain sebagainya. Namun semua itu menjadi pembicaraan yang bersifat nostalgia di masa depan ketika teman seperjuangannya pun merasakan hal yang sama. Bahkan saat masih di pondok. Semua ujian yang terjadi seolah hilang bak air menghilangkan dahaga. Hal demikian karena suka dan duka dijalani bersama, makan di nampan yang sama, tidur di ruangan yang sama, belajar bersama dan hampir semua aktivitas dikerjakan bersama-sama. Oleh karena itu, kebersamaan menyertai perjuangan dan perjuangan menuai kebersamaan. Jika para santri masuk pondok berjumlah 30 misalnya, maka lulus dari pondok pun mestinya dengan jumlah yang sama. Jika para santri berjuang bersama saat di pondok, maka mestinya mereka mampu mencapai kesuksesan bersama pula saat lulus dari pondok. Satu dengan lainnya saling merangkul, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.
Scroll to Top